Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hizib Bahar (laut), Dari Wali Qutub Dengan Sanad Yang Jelas

Hizib Bahar, salah satu dari sekian banyak amalan yang pernah diletakan di laut, bila di wiritikan secara istiqomah akan mendapatkan sebuah karomah yang kokoh, multifungsi untuk berbagai tujuan yang wujud.

Bila ditelisik sekali lintas, pengamal Hizib Bahar hampir seperti orang biasa pada umumnya, namun jarang bahkan tidak akan mampu orang yang membenci akan menjadi sebuah pertikain.

pengamal Hizib Bahar hampir seperti orang biasa pada umumnya

Bukan hanya orang yang benci saja, bila awalnya dibenci orang tanpa permasalahan hanya berdasarkan hati, salah ucapan orang tersebut akan kembali pada dirinya sendiri.

Diatas hanyalah hal kecil yang dituliskan untuk mereka yang mengamalkan Hizib Bahar, bila akan diketahui lebih sudah jelas amalan ini akan sangat bermanfaat untuk kita menjalani kehidupan.

Sekilas untuk kita ketahui lebih jauh proses disusunya Hizib Bahar yang pernah di rujukan terletak dilaut kurang lebih sumbernya seperti ini:

وسمي حزب البحر لأنه وضع في البحر، ولما ورد فيه من ذكر البحر، ويسمى الحزب الصغير أيضا.

Artinya: Hizib ini disebut dengan Hizib Bahar (laut) karena hizib ini pernah ditaruh di laut, dan juga karena di dalamnya disebutkan kata al-Bahr. Hizib ini juga dinamakan dengan al-Hizib ash-Shaghir” (Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini, al-Kunuz an-Nuraniyah, Hal. 350).

Hizib Bahar, disusun oleh seorang Wali Qutub pendiri Tarekat Syadziliyah, Abi Hasan Ali bin ‘Abdillahbin ‘Abdil Jabbar asy-Syadzili.

Beliau lahir di Iskandariah pada tahun 571 H dan wafat pada tahun 656 H, juga terkenal sebagai pembesar ulama sufi, banyak kisah tentang karomah dan keistimewaan beliau menghiasi berbagai kitab tasawuf.

Untuk mengenai lebih jauh tentang faedah mengamalkan Hizib Bahar, Abi Hasan asy-Syadzili menjelaskan:

قال عنه الإمام الشاذلي: وهو حزب عظیم القدر ما قرئ على خائف إلا أمن، ولا مريض إلا شفي، ولا على ملهوف إلا زال عنه لهفه، ولو قرئ حزبي هذا على بغداد ما أخذتها التتار، وما قرئ في مكان إلا سلم الآفات وحفظ من العاهات وسميته: (العدة الوافية والجنة الواقية)، فمن قرأه عند طلوع الشمس أجاب الله دعوته وفرج كربته ورفع قدره وشرح صدره وأمن من طوارق الجن والإنس

Artinya: “Imam Syadzili berkata mengenai hizib ini: ‘Hizib Bahar, merupakan hizib yang agung derajatnya. Hizib ini tidaklah dibaca pada orang yang sedang takut atau khawatir melainkan ia akan aman, untuk orang sakit melainkan ia akan sembuh, untuk orang yang sedang bersedih kecuali hilang kesedihannya. Bila saja hizib ini dibaca di tanah Irak tentu tidak akan diekspansi oleh kaum Tar-Tar. Tidaklah hizib ini dibaca di suatu tempat, kecuali akan aman dari mara bahaya dan terjaga dari hama. Aku menamakan hizib ini dengan nama al-‘Iddah al-Wafiyah wa al-Junnah al-Waqiyah. Barangsiapa membaca hizib ini tatkala terbitnya matahari, maka Allah akan mengabulkan doanya, menghilangkan kegelisahannya, mengangkat derajatnya, melapangkan dadanya dan akan aman dari gangguan jin dan manusia’.”

ولا يقع عليه نظر أحد من خلق الله تعالى إلا أحبه وأجله وأكرمه ومن قرأه عند الدخول على الجبارين أمنه الله تعالى من شرهم ومكرهم، ومن داوم على قراءته ليلا ونهارا لا يموت لا غریقا ولا حريقا ولا مغتالا وإذا احتبس الريح أو زاد في البحر فقرئ أذهب الله عنهم ما يجدونه بإذن الله تعالى ومن كتبه وعلقه على شيء كان محفوظا بإذن الله تعالى.

Artinya: “Tidaklah pandangan seseorang tertuju pada orang yang membaca hizib ini kecuali akan menyukai, mengagungkan dan memulyakannya. Barang siapa yang membaca hizib ini tatkala memasuki kaum yang sewenang-wenang maka akan menjadikan dirinya aman dari keburukan dan tipu daya mereka. Orang yang istiqamah membaca hizib ini di malam dan siang hari, maka ia tidak akan mati dalam keadaan tenggelam, terbakar dan hilang. Ketika angin sedang kencang atau bertambah kencang saat di laut, lalu dibacakan hizib ini, maka Allah akan hilangkan angin tersebut dengan seizin-Nya. Barangsiapa yang menulis hizib ini dan menggantungkannya pada suatu benda, maka benda itu akan dijaga dengan izin Allah”
(Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini, al-Kunuz an-Nuraniyah, Hal. 350).

Bila Anda berniat untuk mengamalkan Hizib Bahar, tidak seperti biasanya yang disusun dengan beberapa lelaku yang harus dilewati, tapi cukup ikuti beberapa tahap dibawah ini:

  • Pertama tetapkan kemantapan hati seperti halnya adab saat membaca dzikir dan hizib.
  • Kedua jangan meminta pertolongan kecuali kepada Allah yang Mahabenar (al-Haq).
  • Ketiga bertawassul dengan membacakan Surat Al Fatihah yang ditujukan kepada Imam Abi Hasan asy-Syadzili.
  • Keempat bila terdapat suatu hajat tertentu, bayangkan hajat tersebut setiap membaca kalimat “al-Bahr” yang terdapat dalam Hizib ini.
  • Kelima tiap kali membaca ayat “Hâ mîm” yang berjumlah tujuh, wajah menghadap ke enam arah:
    1. Depan
    2. Belakang
    3. Arah Kanan
    4. Kiri
    5. Atas
    6. Bawah

Sebelum Anda membaca “Hâ mîm” pada ketujuh membaca kalimat berikut:

دَفَعْتُ بِاللهِ كُلَّ بَلِيَّاتِهِ مِنْ هَذِهِ الْجِهَّاتِ السِّتِّ بِبَرَكَةِ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ السِّتَّةِ وَاسْتَجْلَبْتُ بِهَا كُلَّ خَيْرٍ يَأْتِيْ مِنْ هَذِهِ الْجِهَاتِ اَلسِّتِّ

Artinya: “Aku menolak segala cobaan/ujian dari enam arah ini dengan perantara Allah dengan barakah dari enam nama ini. Dan Aku memohon agar dimudahkan mendapatkan setiap kebaikan yang datang dari enam arah ini.”

Selanjutnya baca lagi “Hâ mîm” yang ketujuh, sambil tangan memegang tubuh bagian apa saja yang bisa dijangkau, lalu usapkan ke wajah sambil fikiran menghadirkan hal yang diinginkan.

Inti mengamalkan Hizib Bahar saat mewiritkan “Kâf hâ yâ ‘aîn shâd kifâyatunâ” dalam setiap huruf awal, gunakan tangan kanan jangan sesekali mengunakan tangan kiri!

Jadi saat diamalkan mengunakanya seperti ini diawal mulai kelingking tangan kanan sambil langsung di genggam satu persatu.

Jadi awal bacaan yang dimulai adalah “kâf” sedangkan yang terakhir diakhiri “shâd” berarti Anda tau kan bila yang terakhir digenggam itu jempo.

Namun sebelum mengunakan cara diatas, utamakan dulu membaca surat Al Fatiha dan Quraisy sebanyak 21 kali sesuai dengan kutipan dibawah ini:

ومن قرأ سورة الحمد سبع مرات وسورة قريش إحدى وعشرين مرة ثم قرأ هذا الحزب ثلاث مرات فى أية حاجة قضيت كائنة ما كانت.

Artinya: “Barangsiapa yang membaca Surat al-Hamdu (al-Fatihah) tujuh kali dan Surat Quraisy 21 kali, lalu membaca hizib ini maka hajat apapun akan terkabul, selama hajat itu masih wujud”
(Sayyid Mukhlif Yahya al-‘Ali al-Hudzaifi al-Husaini, al-Kunuz an-Nuraniyah, hal. 351).

Jadi bila ingin mengamalkannya sudah jelas bahwa dibutuhkan Istiqomah dalam membacanya, selama Anda masih membutuhkan ya silahkan diamalkan bila merasa sudah tidak Anda perlukan lagi boleh ditinggalkan, namun alangkah baiknya menjadi wiritan rutin!